Api di Tangga, Sunyi di Hati: Kisah Rumah Orang Tua Wartawan yang Diduga Jadi Sasaran Teror Dan Kapolres Masih Bungkam

Redaksi - Senin, 22 September 2025 13:09 WIB
Istimewa
Kolase Foto, Rumah Orang Tua Wartawan Saat Tim Inafis Olah TKP (Kanan), dan Kapolres Padangsidimpuan, AKBP Wira Parayatna (Kiri)
Padangsidimpuan, Asatupro.com – Jum'at malam, 15 Agustus 2025 pukul 19.56 WIB, suasana di rumah sederhana milik orang tua wartawan Mahmud berubah mencekam. Api tiba-tiba menjilat tangga kayu menuju kamar atas. Bau asap menyebar, suara kayu terbakar terdengar di antara teriakan panik keluarga.

Rumah itu bukan sembarang rumah. Di sanalah tinggal orang tua Mahmud, seorang wartawan lokal yang dikenal kritis menulis soal perjudian dan praktik ilegal di wilayah Tapanuli Bagian Selatan. Malam itu, rumah keluarga kecil ini nyaris menjadi abu.

Beruntung, sang ibu dan kakak Mahmud sigap. Dengan air seadanya, mereka berhasil memadamkan api sebelum melalap seluruh rumah. Hanya tangga yang gosong, tapi rasa takut dan trauma jelas membekas.

"Kalau tidak cepat dipadamkan, rumah ini pasti sudah habis. Saya benar-benar gemetar malam itu," ucap ibu Mahmud, menahan tangis, Minggu (21/9/2025).

Meski sudah dilakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) oleh Tim Inafis, Jum'at malam (15/8/2025) Polres Padangsidimpuan, publik menilai aparat penegak hukum masih terkesan lamban dalam mengungkap pelaku.

Publik menilai sikap diam Kapolres Padangsidimpuan beserta jajarannya seolah menunjukkan rasa takut terhadap pelaku yang diduga hanya "penjahat kelas teri". Pandangan itu mencuat karena hingga kini polisi belum memberikan keterangan tegas apakah kebakaran tersebut murni insiden atau memang tindakan kriminal terencana.

Kasus pembakaran rumah orang tua wartawan yang hingga kini tak terungkap, menyisakan tanda tanya besar. Jika aparat terus bersikap pasif, publik khawatir Padangsidimpuan akan memasuki babak baru kota yang dikuasai teror dan jaringan kriminal.

Kasus ini tidak berdiri sendiri. Mahmud dikenal sebagai wartawan yang kritis menulis soal perjudian dan praktik ilegal. Wajar jika publik menduga, kebakaran ini bukan musibah, melainkan pesan diam atau keluargamu jadi korban.

Pengabaian kasus ini berpotensi melahirkan efek domino. Pelaku akan merasa kebal hukum, dan bukan tidak mungkin aksi serupa kembali menimpa keluarga wartawan lain, aktivis, bahkan tokoh masyarakat yang kritis. Padangsidimpuan bisa menjadi "zona tak bertuan" di mana hukum tak lagi dihormati.

"Kalau polisi serius, seminggu sudah bisa terungkap. Tapi yang kita lihat justru diam. Jangan-jangan mereka takut menyentuhnya," ucap Ibu Mahmud dengan nada gusar.

Kecurigaan publik makin menguat: Kapolres Padangsidimpuan diduga gentar menghadapi jaringan di balik kasus ini. Padahal, jika hanya pelaku kelas teri, seharusnya aparat bisa bergerak cepat.

"Kalau polisi saja takut, masyarakat bisa berharap ke siapa lagi?" tanya kakak Mahmud lirih, sambil menunjuk tangga yang hangus terbakar.

Tidak hanya itu, Sejumlah rekan satu profesi Mahmud, juga mendesak, dalam dua pekan ke depan harus ada titik terang kasus. Jika tidak, gelombang aksi massa dan solidaritas wartawan di Sumatera Utara diyakini akan membesar, menuntut Kapolda bahkan Kapolri turun langsung. (Red)

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Berita

GPSU Desak Poldasu Panggil Dan Periksa Kadisdik Labuhan Batu Atas Dugaan Pungli Kepsek

Berita

Kasus BBM Subsidi di Tapsel Diduga Ditutup-Tutupi, SPBU Pemasok Belum Tersentuh Hukum

Berita

Patroli Skala Besar KRYD di Belawan, Libatkan Brimob Polda Sumut, Situasi Kondusif Tanpa Gangguan

Berita

Judi Tembak Ikan Cici GBM99 'Dipelihara' Menjamur di Belawan, Warga Resah – Aparat Dinilai Tutup Mata

Berita

Reskrim Polsek Bandar Huluan Ringkus Tiga Pelaku Curat dalam Satu Malam, Kerugian Korban Capai Rp 14,5 Juta

Berita

Residivis Otak Begal Sadis di Marelan-Belawan Dilumpuhkan dengan Timah Panas Usai Melawan Polisi