Tapanuli Selatan, Asatupro.com – Deras arus Sungai Batang Toru pada November 2025 lalu masih membekas dalam ingatan Ismail Syahputera Harahap. Sore itu, langit di Kelurahan Muara Ampolu, Kecamatan Muara Batang Toru, mendung sejak siang. Hujan deras yang mengguyur kawasan hulu perlahan mengubah aliran sungai menjadi keruh dan menakutkan.
Tak lama berselang, air mulai meluap ke permukiman warga. Potongan kayu, lumpur, dan bebatuan besar ikut terbawa arus deras yang datang tanpa ampun.
Di tengah kepanikan warga menyelamatkan diri, Ismail hanya bisa terpaku menyaksikan sebuah bangunan kedai yang juga dijadikan tempat tinggal perlahan bergeser sebelum akhirnya hanyut di depan matanya.
"Sore itu air naik sangat cepat. Tidak sampai lama, bangunan itu langsung hanyut dibawa arus," ujar Ismail kepada awak media, Kamis (14/5/2026), mengenang detik-detik banjir bandang tersebut.
Dalam situasi mencekam itu, Ismail bahkan sempat mengabadikan peristiwa tersebut menggunakan telepon genggamnya. Video yang direkamnya memperlihatkan bangunan yang hanyut diterjang arus deras bercampur lumpur dan kayu dari arah hulu sungai.
Namun, setelah banjir berlalu dan perhatian publik perlahan mereda, perjuangan warga untuk bangkit justru baru dimulai.
Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan sebelumnya telah melakukan verifikasi terhadap rumah warga terdampak banjir melalui "Tabel Rekapitulasi Hasil Verifikasi Rumah Usulan Ke II Kabupaten Tapanuli Selatan". Dalam data tersebut, Kecamatan Muara Batang Toru tercatat menjadi wilayah dengan jumlah usulan terbanyak.
Berdasarkan tabel rekapitulasi hasil verifikasi rumah usulan tahap II, Kecamatan Muara Batang Toru tercatat memiliki total 841 usulan rumah terdampak bencana. Dari jumlah itu, 83 rumah masuk kategori rusak ringan, 19 rusak sedang, 4 rusak berat, dan 735 lainnya tidak masuk kategori atau TMK /TAK 0–19 persen.
Di tengah proses verifikasi tersebut, Ismail Syahputera Harahap masih berharap dirinya dapat memperoleh bantuan rumah dari Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan melalui usulan tahap II tersebut.
Hingga kini, Ismail mengaku belum memperoleh bantuan pemerintah yang diharapkannya. Hal serupa juga disampaikan warga lainnya seperti Derliana Manalu dan Boru Dalimunthe yang sama-sama mengaku masih berusaha memulihkan kehidupan pasca bencana.
Bagi Ismail, bantuan rumah bukan sekadar soal bangunan, melainkan harapan untuk kembali memulai hidup yang sempat porak-poranda diterjang banjir bandang.
"Harapan kami semoga pemerintah bisa memperhatikan lagi warga yang benar-benar terdampak banjir," katanya lirih.
Sebelumnya, saat dikonfirmasi terkait warga korban banjir yang disebut belum menerima bantuan, Sekcam Muara Batang Toru, Jasinaloan Nasution, menyebut hal tersebut berdasarkan hasil verifikasi tim.
"Terkait chat nami Pak, namarsapa do ia tu au jadi ujelaskon disia ima hasil na sina tim verifikasi (Terkait chat kami Pak, Ismail, yang bertanya kepada saya. Jadi saya jelaskan sama dia itulah hasil dari tim verifikasi)," tulis Sekcam Muara Batang Toru melalui pesan WhatsApp kepada wartawan, Jumat (15/5/2026).
Namun ketika kembali ditanya mengenai siapa tim verifikasi yang dimaksud, termasuk alasan Ismail Syahputera Harahap yang merupakan warga Kecamatan Muara Batang Toru disebut tidak menerima bantuan, serta apakah pihak kecamatan telah mengupayakan bantuan kepada warga korban banjir, Sekcam belum memberikan penjelasan lebih lanjut.
Sementara itu, saat dikonfirmasi terkait proses pendataan dan hasil survei terhadap rumah warga terdampak banjir bandang di Kelurahan Muara Ampolu, Rahmat Batubara yang diketahui sebagai petugas survei bantuan rumah pasca bencana belum memberikan tanggapan hingga berita ini diterbitkan.
Di tepian Batang Toru, lumpur memang perlahan mengering. Namun bagi Ismail dan warga lainnya, harapan untuk mendapat perhatian dan bantuan pemerintah tidak mengalir ketika derasnya sungai yang pernah merenggut tempat tinggal mereka. (MN)