Sabang,asatupro.com-Sangat sangat disayang kan melihat sekolah agama,
MAN - MTsN -
MIN di
Sabang, lebih para bila dibandingkan dengan daerah daerah lain, cukup serius diperhatikan oleh instansi vertikal yang bertanggung jawab dan sama sama mendapatkan Dana Bos, Kata Wakaperwil Aceh media suara nasional, saat kunjungan kerja di daerah wisata sambil melihat perkembangan pelabuhan dan perdagangan bebas Kota
Sabang terkesan mati suri disampaikan kepada Asatupro.com baru baru ini.Terlihat kerusakan
MIN Ujong Kerang Kota
SabangTerlihat kerusakan
MIN Anoi Itam
SabangApakah instansi vertikal yang bertanggung jawab sudah pernah atau tidak nya mengajukan anggaran untuk anggaran perawatan- pemeliharaan atau rehalibitasi sekolah Kemenang pusat dan Kemennag propinsi Aceh, lanjut Wakaperwil Aceh, tidak mungkin Mennag pusat tidak mau memberikan anggaran nya, apalagi ini sekolah agama, pasti mau memberikan nya.Terlihat tumpukan botol Aqua bekas,
MIN 1
SabangBerdasarkan kunjungan kerja Wakaperwil Aceh ke sekolah
MAN - MTsN dan
MIN pada bulan Maret 2025, keterangan dari kepala sekolah, Dana Bos sudah digunakan untuk kepentingan dan keperluan sekolah, sesuai dengan dana bos yang ada, kalo untuk memperbaiki kerusakan berat yang dibicarakan tadi, sekolah tidak punya anggaran yang sebesar itu, kata kepala sekolah.Lanjut kepala sekolah, dari mana sekolah mau cari anggaran yang sebesar itu, untuk biaya perbaikan sekolah, sedangkan dana bos yang ada di sekolah tidak mencukupi, untuk membayar guru bakti, kegiatan anak anak murid, ATK dan yang lainnya, Dana Bos yang di grogoti.Terlihat Kerusakan
MAN 1
SabangInformasi yang dikutip dari wali murid, ada salah satu sekolah agama disabang, mengutip 100 ribu perbulan untuk fuld, 100 ribu perbulan untuk tambahan belajar sore - 150 ribu perbulan untuk kelas internasional dan 60 ribu perbulan untuk kelas reguler, ini yang memberatkan saya sebagai wali murid, seperti nya sekolah dan instansi vertikal yang bertanggung jawab tidak punya dana dengan hal hal yang seperti ini kata nya.Kalo kami pejabat, berapapun yang diminta kami berikan Mala kami bantu lagi sekolah tersebut, karena kami orang yang tidak punya cukup dengan keluhan, padahal sekolah agama tersebut setiap tahun menerima Dana Bos, kenapa hal seperti ini tidak mau menanganinya dengan Dana Bos, kenapa wali murid yang di bebaninya, dan apakah tau kepala instansi vertikal yang bertanggung jawab mengetahui dengan hal ini, baik Kemenag propinsi maupun Menag pusat, pungkasnya.