Cipayung Menggugat Melakukan Demonstrasi di DPR RI Dan Salah Satu Masa Aksi Sempat Mendapatkan Tindakan Represif Oleh Oknum Polisi

Zulhamdani Napitupulu - Senin, 15 Juni 2026 19:19 WIB
Cipayung Menggugat Melakukan Demonstrasi di DPR RI Dan Salah Satu Masa Aksi Sempat Mendapatkan Tindakan Represif Oleh Oknum Polisi.

Jakarta,asatupro.com-Aliansi organisasi mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Menggugat menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPR RI, Tanah Abang, Jakarta Pusat pada hari Senin, 15 Juni 2026 sekitar jam 13.00 WIB sampai jam 17.30 WIB. Cipayung Menggugat yang terdiri dari GMNI Jakarta Timur, PMKRI Jakarta Timur, LMND Jakarta Timur dan PMKRI Jakarta Selatan.

Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan lima tuntutan utama yang ditujukan kepada pemerintah melalui DPR RI sebagai lembaga legislatif. Adapun beberapa tuntutan Cipayung Menggugat ialah sebagai berikut :Mendesak Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka untuk mengundurkan diri dari jabatan Presiden dan Wakil Presiden RI sebagai bentuk pertanggungjawaban atas berbagai kebijakan yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat.Menuntut pendidikan gratis dan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia guna menjamin hak setiap warga negara untuk memperoleh akses pendidikan tanpa hambatan ekonomi.Menuntut pemerintah segera menurunkan harga BBM untuk mengurangi beban ekonomi masyarakat dan mencegah harga kebutuhan pokok.Mendesak dilakukannya evaluasi total terhadap tata kelola program MBG (Makan Bergizi Gratis) agar pelaksanaannya berjalan transparan, tepat sasaran dan tidak menimbulkan persoalan baru dimasyarakat.Menuntut dihentikannya sementara program MBG (Makan Bergizi Gratis) sampai dilakukannya evaluasi secara menyeluruh dan perbaikan sistem pelaksanaan guna menjamin efektivitas serta akuntabilitas program.

Dalam berjalannya aksi seorang masa aksi dari aliansi Cipayung Menggugat yang bernama Dzakwan Falih yang juga merupakan Wakabid Politik dan Hubungan Antar Lembaga DPC GMNI Jakarta Timur juga mengalami kekerasan saat diamankan aparat kepolisian dalam demonstrasi di depan Gedung DPR. Sempat ditangkap polisi ketika hendak membakar ban sebagai bentuk protes dalam aksi tersebut. Setelah diamankan, Dzakwan mendapat pemukulan di beberapa bagian tubuh.

Kemudian dibawa oleh aparat kepolisian sebelum akhirnya dibebaskan. Menurut dia, polisi memberikan pesan agar aksi demonstrasi tidak dilakukan dengan cara-cara yang dianggap anarkis. Meski telah dibebaskan, Dzakwan terlihat masih lemas saat kembali ke lokasi aksi. Ia juga mengaku mengalami trauma setelah peristiwa tersebut.

Emanuel Odo selaku Ketua PMKRI Jakarta Timur meminta untuk melakukan evaluasi total Makan Bergizi Gratis (MBG) sebab tidak berdampak nyata bagi masyarakat bahkan diduga menjadi lahan basah bagi segelintir oknum juga meminta untuk menghentikan sementara progam MBG sampai negara ini siap mengelola MBG yang tepat sasaran terutama didaerah 3T bukan malah memperkaya segelintir oknum saja.

Juga mengingatkan kembali bahwasanya masih banyak persoalan bangsa ini yang belum selesai, terutama di Papua. Masih banyak ketidakadilan diPapua dan mengingatkan bahwasanya Papua bukan tanah kosong serta hentikan tindakan repsesif oknum aparat ditanah Papua sehingga judul aksi Prabowo-Gibran Gatal (Gagal Total) dengan 5 tuntutan utama harus terus disuarakan.

Abdul Latief selaku Ketua LMND Jakarta Timur menyampaikan bahwasanya ini adalah gerakan moral yang semata-mata bertujuan untuk kepentingan rakyat bukan kepentingan politik. Ditengah Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja, saatnya mahasiswa bersatu dan turun ke jalan untuk menyuarakan suara kebenaran.

Jangan sampai kita apatis dengan keadaan yang terjadi saat ini, justru dengan kondisi seperti ini kita harus menguatkan konsolidasi gerakan dalam melihat kondisi hari ini secara objektif dan nyata.

Jansen Henry Kurniawan selaku Ketua GMNI Jakarta Timur sangat menyesalkan tindakan represif yang sempat dilakukan oleh oknum polisi terhadap salah satu pengurusnya yaitu Dzakwan Falih. Serta menyayangkan kepada anggota DPR yang seharusnya menjadi wakil rakyat tetapi ketika para mahasiswa menyampaikan tuntutannya bahkan jumlahnya 580 orang tetapi tidak ada satupun yang bersedia untuk menemui masa aksi.

Serta menyampaikan bahwasanya aksi Cipayung Menggugat di DPR RI ini bukanlah aksi yang terakhir tetapi akan terus berlanjut dengan kekuatan yang lebih besar lagi sebagai bentuk perjuangan mahasiswa dalam mencintai negeri ini serta mengajak elemen mahasiswa, rakyat dan seluruh anak bangsa untuk bersatu sebagai bentuk rasa cinta terhadap negeri ini.

Editor
: Redaksi

Tag:

Berita Terkait

Nasional

PD 14 Sumut Desak Gerindra Turun Gunung, Jangan Hanya Jadi Penonton di Tengah Gempuran Isu terhadap Prabowo

Nasional

Ketua DPRD Sumut Minta Polisi-Jaksa Usut Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG

Nasional

Kejagung Gandeng BPKP Audit Pengadaan di BGN: Semua Kita Buka

Nasional

DPP GMNI Minta Panglima TNI Berikan Klarifikasi soal Keterlibatan Aparat dalam Pengamanan Demonstrasi

Nasional

Kemenkeu Respons Tuntutan Mahasiswa Setop Pemborosan APBN

Nasional

Dapur MBG Membengkak Imbas Jual Beli Titik, Pemerintah Buka Opsi Penutupan