Medan,asatupro.com-Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi jenis Pertalite dan Solar di sejumlah SPBU di Kota Medan memunculkan dugaan adanya persoalan dalam tata kelola distribusi. Seorang Awak Mobil Tangki (AMT) Pertamina PT El Nusa Petrofin yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku, kondisi di lapangan tidak menunjukkan adanya krisis pasokan sebagaimana yang berkembang di tengah masyarakat.
Kepada awak media, Kamis (16/7/2026), AMT tersebut menyatakan dirinya heran dengan langkah pemerintah yang mengerahkan bantuan personel TNI-Polri serta mendatangkan AMT dari Aceh. Menurutnya, para awak mobil tangki di Sumatera Utara dalam kondisi siap bekerja dan tidak terjadi mogok kerja secara massal.
"AMT ready semua. Nggak ada yang mogok kerja. Bahkan sampai AMT dari Aceh dipanggil, tapi di sini kadang hanya duduk-duduk di kantin," ujarnya.
Lebih jauh, narasumber tersebut menduga kelangkaan BBM bukan disebabkan keterbatasan stok, melainkan adanya kebijakan pembatasan distribusi ke sejumlah SPBU. Ia mengklaim permintaan Pertalite dari SPBU tidak dipenuhi secara penuh sehingga stok cepat habis di lapangan.
Menurut pengakuannya, terdapat SPBU yang mengajukan permintaan hingga 24 ribu liter Pertalite, namun hanya menerima sekitar 8 ribu liter. Ia menduga kondisi tersebut membuat masyarakat akhirnya beralih membeli Pertamax yang memiliki harga lebih tinggi.
"SPBU minta 24 ribu liter, tapi dikirim 8 ribu liter. Jadi masyarakat akhirnya membeli Pertamax. Ini yang kami duga menjadi permainan," ungkapnya.
Meski demikian, hingga berita ini ditulis belum terdapat keterangan resmi dari PT Pertamina terkait klaim tersebut.
Narasumber juga mengklaim stok BBM di depot sebenarnya mencukupi dan ratusan mobil tangki siap melakukan distribusi. Menurutnya, persoalan justru berada pada mekanisme penyaluran ke SPBU.
Selain distribusi, AMT tersebut turut menyinggung dugaan praktik penyalahgunaan Solar subsidi. Ia menduga terdapat pelangsir yang memanfaatkan barcode kendaraan untuk membeli Solar bersubsidi, kemudian menjualnya kembali kepada sektor industri dengan harga lebih tinggi.
"Mobil-mobil pelangsir antre isi Solar penuh. Diduga minyak itu kemudian dijual lagi ke industri," katanya.
Tak hanya itu, ia juga mengungkap dugaan adanya praktik penyimpangan saat proses pembongkaran BBM di SPBU. Menurutnya, terdapat oknum yang diduga mengurangi volume BBM saat pembongkaran, namun kekurangan tersebut justru dibebankan kepada sopir tangki.
Di sisi internal perusahaan, narasumber mengaku para awak mobil tangki juga menghadapi persoalan kesejahteraan. Ia menyebut adanya dugaan perbedaan gaji antarpekerja dengan beban kerja yang sama, serta mengaku khawatir mendapat sanksi apabila menyampaikan protes kepada manajemen.
Ia berharap aparat penegak hukum, instansi pengawas, serta manajemen PT Pertamina melakukan audit menyeluruh terhadap sistem distribusi BBM di Sumatera Utara, termasuk menelusuri dugaan penyimpangan mulai dari tingkat depot, distribusi hingga SPBU.
Hingga berita ini diterbitkan, PT Pertamina belum memberikan tanggapan resmi atas berbagai dugaan yang disampaikan narasumber tersebut. Redaksi membuka ruang hak jawab dan klarifikasi dari PT Pertamina maupun pihak-pihak lain yang disebut dalam pemberitaan ini sesuai ketentuan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers. (Red/Tim)