Medan, asatupro.com - Setidaknya ada tiga masalah utama yang menjadi sorotan dan pembahasan para petani kelapa sawit plasma yang tergabung dalam DPRD I Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspek-PIR) Indonesia cabang Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Minggu (8/3/2026) malam.
Tiga masalah itu dibahas Aspek-PIR Sumut bersama para mitra usaha setelah selesai acara berbuka puasa bersama yang diselenggarakan di Resto Desa-Desa di Jalan Tanjung Rejo, Medan.
Para pengurus Aspek-PIR Sumut yang hadir dalam acara itu antara lain Syarifuddin Sirait selaku Ketua, Sahnan Solin (Sekretaris), Sofian Manurung (Bendahara), Zakaria Rambe, Paijo, Hendrik Hutabarat, Salman Sirait, dan pengurus lainnya
Sementara para mitra usaha yang hadir yakni Wahyudi dan M Shazmin Izhar dari PT All Cosmos Biotek Indonesia, Poltak Hutauruk dari PT Agro Bio Mahligai (produsen pupuk Bio Ferteich Forte), Sahid Tanjung dari PT NPK Mampang, serta Satria dari SawitPRO (perusahaan teknologi dan aplikasi sawit).
"Problem di tingkat petani sawit, baik plasma maupun swadaya, setidaknya ada tiga, yaitu produktivitas yang rendah dan sangat jauh berbeda bila dibandingkan dengan produktivitas perkebunan milik perusahaan," kata Syarifuddin Sirait selaku Ketua DPD I Aspek-PIR Sumut dalam pertemuan itu.
Produktivitas tersebut, sambung Syarifuddin Sirait lagi, dapat dilihat dari jumlah tonase dan tingkat rendemen tandan buah segar (TBS) dari kebun petani yang jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan hasil dari kebun milik perusahaan.
Yang kedua, kata Sekretaris Umum (Sekum) DPP Aspek-PIR Indonesia ini, adalah masalah ganoderma yang tidak kunjung bisa diatasi secara maksimal oleh para petani sawit di berbagai kabupaten di Sumut.
Sumber
: <a href="Liputan" target="_blank"></a>