Subulussalam, asatupro com - Sungguh malang nasib ribuan petani kelapa sawit yang ada di dua kabupaten dan kota yang saling berbatasan di bagian barat selatan (Barsela) Provinsi Aceh saat ini.
"Ribuan petani dan pekerja sawit di Kotamadya Subulussalam dan Kabupaten Aceh Selatan tak bisa memanen tandan buah segar (TBS) di kebun sawit masing-masing," kata Ir Netap Ginting kepada asatupro.com, Sabtu (30/11/2024).
Sebagai informasi, Netap Ginting adalah seorang petani sawit swadaya dan menjadi Ketua DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) Provinsi Aceh periode 2024-2029 hasil musyawarah wilayah (muswil) di kota Banda Aceh beberapa waktu yang lalu.
Pria kelahiran Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dan sedang menempuh proses sertifikasi Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) ini juga tercatat masih menduduki posisi sebagai Ketua DPD APKASINDO Kotamadya Subulussalam.
"Para petani sawit tidak bisa memanen TBS karena jembatan Titi Urat ambruk karena sungai Krung Titi Pupin meluap yang disebabkan oleh hujan deras," kata Netap Ginting menjelaskan.
Jembatan itu, ungkapnya, memiliki peran yang sangat vital karena menghubungkan Kecamatan Trumon Timur di Kabupaten Aceh Selatan ke Kecamatan Runding di Kotamadya Subulussalam.
"Jembatan itu putus atau ambruk, akibatnya 2.341 petani sawit tak bisa memanen TBS di sekitar 5.000 hektar (Ha) kebun sawit mereka," beber Netap Ginting.
Editor
: Hendrik Hutabarat
Sumber
: <a href="Liputan" target="_blank"></a>